Handicraft Provider kok judulnya 'Pondok Dahar Lauk Jogja'? Mmmm... nama brand memang tidak perlu literally nyambung, kan? Bisa karena kami memang berasal dari Jogja, bisa juga karena memang toko online ini dirintis dari rumah makan mungil kami, Pondok Dahar Lauk Jogja (back to 2011)...
However, toko online kami saat ini menyediakan aneka handicraft
Jogja seperti bambu ulir cendani, vas & meja set gerabah Kasongan, vas kayu minimalis, serta rupa-rupa handicraft yang tak mesti berlabel 'Jogja' seperti bunga rangkai aneka jenis, ranting hias, lukisan bunga, pigura 3D, serta buah & pohon topiary artificial.
Pokoknya Jogja and Florist one stop solution untuk Anda yang berkediaman di Bekasi dan sekitarnya...

Untuk navigasi cepat ke 'KATALOG UPDATE TERAKHIR' kami, klik di sini...

header gambar laukkita

header gambar laukkita

Hot Item : Ranting Inul Bunga Mawar Silkworm Cocoon-like

Header Photo : Ranting Inul Bunga Mawar Silkworm Cocoon-like

Hot Items

HOT ITEMS :
* Produk Pigura 3D : Pigura 3D Aneka Model
* Produk Bambu Ulir : Bambu Ulir Cendani Aneka Model
* Produk Vas Gerabah : Vas Gerabah Aneka Model
* Produk Ranting Hias : Ranting Inul Aneka Model

Kamis, 05 Januari 2012

Menanam Loquat (pipa fruit) di Pondok Dahar Lauk Jogja (Planting Loquat @ Lauk Jogja)

April 2011 lalu kami berkesempatan mengunjungi kota Fuzhou, ibukota Propinsi Fujian, China. Fuzhou termasuk kecil untuk ukuran ibukota Propinsi di China. Namun tetap saja tergolong besar jika dibandingkan dengan ukuran kota-kota besar Indonesia.
Dalam beberapa kesempatan perjalanan bisnis kami ke Fuqing (kota tetangga Fuzhou), kami melihat barisan pepohonan yang tampaknya tengah berada dalam masa panen di pinggir-pinggir jalan bebas hambatan antar kota tersebut. Pohon-pohon  tersebut tidak tinggi, sekitar 2~3 meteran saja tingginya. Para petani pemilik pepohonan tersebut tampak menutupi buah-buah siap panen dengan kantung plastik keperakan. Hijau gerumbul daun dan kerlip perak pembungkus buah tersebut tampak sangat indah dan menyegarkan dari kejauhan. Apalagi saat angin kencang berhembus (Fuqing terletak dekat laut), wah... barisan pepohonan tadi tampak kian menggemaskan saat berayun-ayun mengikuti tiupan angin.
Rekan Fuqing kami menjelaskan bahwa itu adalah pohon loquat atau pipa (Eriobotyra japonica) yang memang merupakan tumbuhan khas kawasan selatan China. Pohon ini termasuk ke dalam ordo Rosales dan family Rosaceae. Loquat sering pula disebut plum Jepang. Diyakini bahwa loquat dari China selatan telah dibawa dan dibudidayakan di Jepang sejak lebih dari 1000 tahun lalu. Loquat juga diketahui telah dibawa dan dibudidayakan di India, Pakistan, kawasan Laut Tengah, Hawaii, hingga Brazil. Dengar-dengar di Indonesia juga ada, tetapi dengan nama berbeda yaitu biwa atau biwah (kalau tidak salah sentra budidayanya adalah di Berastagi, Sumatera Utara).
Karena penasaran, kami minta berhenti di pinggir jalan dan membeli sekantung besar buah loquat dari seorang penjual buah di sana. Kami lupa berapa tepatnya harga yang dimintanya untuk sekantung besar (sekitar 2,5 kg) buah loquat itu, tapi hanya beberapa puluh yuan saja.
Buah loquat tidak terlalu besar, rata-rata hanya seukuran apel sedang saja. Bentuknya pun kurang lebih seperti apel. Kulit buahnya tipis, berwarna oranye terang seperti jeruk saat matang. Jika mau kita dapat mengupas kulit tipis ini dengan kuku jari tangan. Daging buahnya amat berair, manis dan lembut jika dikunyah. Di bagian dalam, terdapat rongga besar berisi beberapa biji buah loquat. Volume rongga biji tersebut cukup besar, mungkin hingga 40% dari total volume buah loquat. Artinya, daging buah yang dapat dikonsumsi sebenarnya tidak terlalu banyak juga.
Sekantung besar buah loquat itu akhirnya habis selama beberapa hari di hotel. Namun karena rasa buahnya yang maknyus dan kami tidak tahu apakah loquat benar-benar dapat dibeli di Bekasi, kami berniat menanam bijinya setiba di tanah air. Syukur-syukur bisa benar-benar tumbuh dan menghasilkan buah di sini. Maka, selama di hotel kami tidak membuang biji loquat tersebut, melainkan kami simpan dan kami bawa pulang ke tanah air. Menurut rekan Fuqing kami, biji loquat cepat tumbuh menjadi pohon dan dapat mulai berbuah setelah sekitar 3 tahunan. Namun masih menurutnya, pohon loquat tidak suka sinar matahari berlebih. Bahkan cenderung tidak berbuah jika terpajan matahari berlebih. Waduh, pikir kami, di Bekasi mana ada daerah seperti itu? Tapi biar sajalah, yang penting usaha dulu!!!
Setiba kembali di Indonesia, biji-biji loquat tersebut kami jemur hingga agak kering lalu kami tanam. Halaman rumah kami yang tidak luas membuat kami menanam bijinya di pot dulu (kalau sudah agak besar baru akan dipindahkan ke tanah). Kami pun memberikan banyak biji loquat pada kenalan dan Mpok kami (orang yang membantu pekerjaan kami di rumah, tidak tinggal di rumah, hanya datang setiap pagi dan petang untuk membantu kami beres-beres rumah) yang tinggal di kampung atas (komplek perumahan kami memang terletak agak ke bawah, sedangkan di luar tembok perumahan terdapat perkampungan penduduk yang topografi tanahnya lebih tinggi). 
Nah, di kampung atas ini alhamdulillah sekali puluhan biji-biji tersebut tumbuh dan saat ini sudah menjadi pohon-pohon kecil. Demikian pula pohon-pohon kecil loquat yang kami tanam di pot. Foto pohon loquat kami di pot seperti di bawah :



Mungkin atau tidak jika Bekasi suatu saat menjadi daerah produsen loquat? Ah... itu sih nanti lah. Yang penting sekarang kami menjaga dulu pohon-pohon kecil ini agar dapat tumbuh besar dan (syukur-syukur) bisa benar-benar berbuah, supaya kami bisa menyediakannya di Pondok Dahar Lauk Jogja :-).

Simak juga :
Produk bambu ulir rangkai di Pondok Dahar Lauk Jogja 
Produk vas gerabah besar di Pondok Dahar Lauk Jogja 
Artikel menarik tentang sentra gerabah Kasongan Jogjakarta 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar