Handicraft Center kok judulnya 'Pondok Dahar Lauk Jogja'? Mmmm... nama memang tidak perlu literally nyambung, kan? Bisa karena kami memang berasal dari Jogja, bisa juga karena memang pusat hobi kami ini dirintis dari rumah makan mungil kami, Pondok Dahar Lauk Jogja (back to 2011)...
However, pusat hobi kami ini berkarya dalam aneka handicraft
Jogja seperti bambu ulir cendani, vas & meja set gerabah Kasongan, vas kayu minimalis, serta rupa-rupa handicraft yang tak mesti berlabel 'Jogja' semisal bunga rangkai aneka jenis, ranting hias, lukisan bunga, pigura 3D, serta buah & pohon topiary artificial.
Pokoknya Jogja and Florist Enthusiast untuk Anda yang berkediaman di Bekasi dan sekitarnya...

Untuk navigasi cepat ke 'KATALOG UPDATE TERAKHIR' kami, klik di sini...

header gambar laukkita

Hot Items

HOT ITEMS :
* Handicraft Bambu Ulir : Bambu Ulir Cendani Aneka Model
* Handicraft Vas Gerabah : Vas Gerabah Aneka Model
* Handicraft Ranting Hias : Ranting Inul Aneka Model

Kamis, 31 Desember 2015

Pajimatan Imogiri, Kompleks Makam Raja-Raja Kesultanan Jogjakarta

Kompleks Pemakaman Imogiri (Pasarean Imogiri, atau Pajimatan Girirejo Imogiri) adalah kompleks pemakaman raja-raja dan keluarga raja Kesultanan Mataram (Jogjakarta) - berlokasi di perbukitan Imogiri, Bantul, DIY, sekitar 20km selatan kota Jogja - yang saat ini juga menjadi salah satu objek wisata di kawasan selatan DIY karena suasana yang rindang dan sejuk, panorama alam, serta kuliner tradisionalnya yang maknyuss.
Pemakaman Imogiri dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Mataram III, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati, Raja Mataram I.
Dari berbagai sumber memang kami mendapatkan beragam informasi dan cerita seputar keramatnya pemakaman ini - bahkan ada yang terkesan mitos - , namun kami berpendapat bahwa berkunjung ke pemakaman tak lain tak bukan adalah semata sebagai pengingat bahwa kita akan mati suatu saat nanti meski seorang raja yang amat berkuasa di dunia sekalipun, dan itu adalah pasti. Sekarang tinggal bagaimana mempersiapkan bekal amal shalih sesuai sunnah Rasulullah Muhammad SAW untuk dibawa menghadap Allah SWT, wallahu alam bissawab...
Pagi hari 25 Des 2015 kami sekeluarga berangkat menuju Pajimatan Imogiri via Jalan Imogiri Barat tak jauh dari rumah terus ke arah selatan. Agak pangling saat menemukan Pasar Imogiri sudah pindah ke lokasi baru di sebelah utara lokasi lama (tak terasa, kunjungan terakhir kami ke sini sudah sekitar 13 tahun yang lalu!). Kami tiba di area parkir mobil saat suasana masih sepi, baru ada beberapa pengunjung selain kami yang tiba di sini seperti foto di sebelah kiri. Tak menunggu lama, kami segera berjalan pagi ke lokasi Pajimatan yang seperti biasa selalu tampak bersih dan asri.

 Jalan dari area parkir ke Pajimatan (kiri); sungai kecil dan jembatan yang asri dekat gapura Pajimatan (kanan)

 Gapura Pajimatan (kiri); setelah melewati gapura kita menaiki anak-anak tangga pertama yang landai sebagai penghubung daerah pemukiman dengan daerah dekat masjid. Rumah-rumah penduduk di sebelah kanan tangga di sini sebagian difungsikan pula menjadi toko batik dan penganan. Dua anak kami mulai menghitung jumlah anak tangga dari sini. Mereka menghitung bersama-sama tiap menaiki anak tangga, dan hasilnya menurut mereka adalah 32 anak tangga yang landai (seperti foto di atas), dan 377 anak tangga yang lebih curam. Seharusnya hitungan mereka akurat karena memang dihitung satu per satu secara bersamaan. Belakangan kami cek di Wikipedia ternyata jumlahnya cocok, total 409 anak tangga! (kanan)

Haidar dan Atheefa menghitung jumlah anak tangga secara bersamaan setelah melewati 32 anak tangga pertama yang landai, sedangkan Abid mengikuti di belakang sambil tak lepas memainkan game (dia sih tidak menghitung), hadeuh... Anak tangga selebar sekitar 4m di sini tampak lebih curam dengan kemiringan sekitar 45derajat (kiri); gazebo untuk duduk-duduk di pelataran sebelum menaiki trek tangga yang lebih curam (kanan)

 Di sisi kanan tangga naik juga terdapat beberapa makam yang bahkan telah terselimuti lumut (kiri); prasasti kolam air makam Imogiri tepat di bawah puncak kompleks pemakaman yang merupakan area Astana Kasultan Agung yang berisi makam Sultan Agung, Sri Ratu Batang, Hamangkurat Amral, dan Hamangkurat Mas (kanan)

 Kolam air makam Imogiri berisi puluhan ekor ikan aneka warna (kiri); gapura Astana Kasultan Agung bernama Gapura Supit Urang. Gapura ini bercorak bangunan Candi Bentar (Hindu) dengan konstruksi susunan bata merah tanpa semen. Di bagian dalam gapura terdapat 2 buah paseban di sisi barat dan timur. Setelah melewati Gapura Supit Urang terdapat Pendopo Supit Urang, Tempat Juru Kunci, dan 4 Tempayan Suci... tetapi kami tidak masuk sampai ke dalam sana. Pengunjung yang hendak masuk ke dalam Gapura Supit Urang harus mengenakan kain panjang, kemben, dan melepas seluruh perhiasan (bagi wanita), dan mengenakan baju peranakan dan blangkon (bagi pria) (kanan)

Terkait Gapura Supit Urang, terdapat cerita penghianatan Tumenggung Endranata pada saat Kerajaan Mataram Kuno hendak menyerang Belanda di Jayakarta (disadur dari Wikipedia). Endranata membocorkan rahasia penyerangan ini dan lokasi lumbung-lumbung padi logistik pasukan Sultan Agung pada Belanda. Ketika penghianatan ini terbongkar, Endranata ditangkap dan dimutilasi menjadi 3 bagian, lalu bagian-bagian jasadnya dimakamkan di 3 lokasi terpisah : kepala dikuburkan di tengah-tengah Gapura Supit Urang, badan dikubur di bawah anak tangga yang permukaannya tidak rata di trek tangga dekat Gapura Supit Urang (sayang saat kami ke sana kami belum mengetahui hal ini sehingga tidak memfoto anak tangga yang tidak rata ini), dan kakinya dikubur di tengah kolam.
Hal ini dilakukan Sultan Agung agar semua orang yang datang ke Pajimatan pasti menginjak salah satu bagian jasadnya, serta untuk memperingatkan rakyat agar penghianatan besar yang pada akhirnya memang berujung pada kegagalan laskar Mataram menguasai Jayakarta akibat kekurangan logistik menyusul dibakarnya lumbung-lumbung padi oleh Belanda ini tidak terjadi lagi.

 Pandangan tangga jauh ke bawah dari muka Gapura Supit Urang (kiri); jadwal buka Astana Kasultan Agung (kanan)

 Dari Gapura Supit Urang, kita bisa bergerak ke arah kiri menuju area pemakaman raja-raja Kraton Surakarta Hadiningrat yang terdiri dari kompleks Paku Buwono, Kasuwargan Surakarta, Kapingsangan Surakarta, dan Grimulya Surakarta (kiri); atau bergerak ke arah kanan menuju area pemakaman raja-raja Kraton Yogyakarta Hadiningrat yang terdiri dari kompleks Kasuwargan, Besiyaran, dan Saptorenggo (kanan)

Karena berniat langsung akan turun kembali menuju area parkir mobil, maka kami bergerak ke sebelah kiri dari Gapura Supit Urang menuju ke kompleks pemakaman Paku Buwono.
  Jalan yang asri di luar dinding Kompleks Paku Buwono (kiri); gerbang Paku Buwono (kanan)

 Kompleks Grimulya Surakarta dengan tembok berwarna kelabu gelap tampak lebih baru dibanding kompleks lain yang memang dibangun terlebih dahulu (kiri); salah satu tanda pengenal makam Sri Susuhunan Paku Buwono X di Kompleks Grimulya Surakarta (kanan)

 Keluar dari Kompleks Pemakaman Imogiri, kita menjumpai jalan dengan vegetasi hijau rapat di kanan-kirinya ke arah bawah (kiri); di ujung jalan menurun ini terdapat Pos Jaga Cagar Alam Imogiri yang sayangnya tak bebas dari grafiti (kanan)

 Cagar Alam Imogiri dapat menjadi wisata alam yang cocok untuk aktivitas bersepeda atau hiking. Kita bisa langsung menuju spot ini dari area parkir tanpa harus melewati tangga ke pemakaman dulu. Kawasan Imogiri memang tidak melulu tentang kompleks pemakaman sebenarnya.

 Bergerak turun sekitar 250m dari Pemakaman Imogiri, di sisi kanan jalan kita jumpai lokasi Makam Seniman Giri Sapto (kanan); senada dengan pemakaman para raja, Makam Seniman juga berkonsep tangga naik ke Bukit Gajah. Terdapat pelataran yang luas dengan lengkungan besar di mana terdapat patung dada Sapto Hudoyo (kiri)

Makam Seniman ini berawal dari ide Dr. (HC) RM Sapto Hoedojo FRSA, seorang pelukis dan seniman asal Solo yang pernah menjadi pelukis keluarga kerajaan Malaysia, dengan karya-karya yang dihormati oleh pecinta seni dalam dan luar negeri. Sapto Hudoyo lahir pada 6 Feb 1925 dengan nama Piek, sebagai anak ketujuh dari 18 bersaudara. Pada tahun 1945 Piek bergabung dengan Tentara Pelajar, dan bertempur bersama Bung Tomo di Surabaya. Sapto Hudoyo meninggal pada tahun 2003, kemudian dimakamkan di bagian utara Makam Seniman gagasannya. Pembangunan kompleks ini selesai pada tahun 1988. Patung dada Sapto Hudoyo setinggi 1,5m ini merupakan karya Edi Sunarso, dibuat semirip mungkin dengan sosok asli Sapto Hudoyo, dipasang pada tanggal 10 Nov 2015 oleh Ketua Yayasan Makam Seniman, Yani Sapto Hudoyo, untuk mengenang jasa Sapto Hudoyo dalam bidang seni budaya.

Ide pembangunan Makam Seniman ini saat itu menimbulkan pro-kontra. Pelukis Affandi adalah salah satu tokoh yang menyetujuinya, meski setelah meninggal, istri Affandi - Ibu Maryati - meminta jasad Affandi dimakamkan di Museum Affandi Jogjakarta, bukan di Makam Seniman. Gagasan adanya Makam Seniman ini akhirnya mendapat lampu hijau dari Bupati Bantul saat itu, KRT Suryapamo Hadiningrat, dengan dialokasikannya sebidang tanah di Bukit Gajah, Perbukitan Wukirsari sebagai tempatnya. Awalnya lokasi ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan nama 'Makam Seniman Pengharum Bangsa', namun kemudian diganti oleh Sapto Hudoyo menjadi 'Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto' hingga saat ini.

 Makam para seniman berada di kiri-kanan pelataran tangga naik (kiri); masjid di sebelah kiri pelataran Makam Seniman, juga tampak teduh di tengah vegetasi hijau rapat kawasan ini (kanan)

Dari pelataran Makam Seniman, lokasi parkir mobil sudah tidak jauh lagi di bawah. Tiba di sini, ternyata sudah banyak kendaraan yang parkir. Memang pengunjung yang bersantap kuliner khas Jogja di warung-warung seputaran area parkir sudah banyak. Kami pun segera menempati salah satu meja dan mengambil makanan secara prasmanan.
 Tersedia banyak meja dengan payung peneduh yang bisa kita gunakan (kiri); langsung ambil sendiri makanan yang kita sukai, harga makanan-minuman di sini sangat murah untuk ukuran Jakarta, jangan khawatir kemahalan deh pokoknya (kanan)

  Selain meja yang berada di luar warung, kita bisa juga memilih lesehan di dalam (kiri); Atheefa bermain inline skate di seputaran parkiran mobil yang saat itu sudah tampak penuh (kanan)

 Yang kami sukai dari wedang (minuman hangat) di sini adalah konsistensinya menggunakan gula batu yang khas sejak jaman dulu, contohnya teh hangat ini (kiri); wedang uwuh khas Imogiri yang unik (kanan)

Wedang uwuh kira-kira berarti minuman hangat dari daun kering. Uwuh adalah istilah untuk sampah daun kering yang biasanya rontok dari pohon. Wedang uwuh berisi campuran jahe dan daun-daun kering yang direbus dengan gula batu. Hasilnya adalah minuman hangat dengan dominan rasa jahe, manis dari gula batu, dan sedikit sensasi pahit dari daun kering, kurang lebih seperti pahitnya daun jeruk lah. Warna merah sendiri datang dari sejenis kulit kayu yang ikut direbus bersama dedaunan kering. Disruput hangat-hangat di tengah udara pagi perbukitan Imogiri yang sejuk... hmmm, mantap tenan.
Masih ingin menikmati wedang uwuh di Bekasi, kami sengaja membeli bahan-bahan minuman ini yang sudah dikemas plastik, lengkap dengan petunjuk penyajiannya. Kita bisa membeli bahan wedang uwuh di warung sekitar parkiran Imogiri, atau di luar. Kami memilih warung wedang uwuh Pak Yadi (sekitar 100m ke arah luar Pemakaman Imogiri) yang walaupun memang kecil dan tampak amat bersahaja, namun jangan ditanya pembelinya terkadang sampai antri! 
Kita bisa membeli kemasan satuan (satu gelas), atau jika kita membali dalam jumlah banyak, Pak Yadi akan mengemasnya dalam wadah plastik per 5 kemasan.

Kemasan satuan wedang uwuh Pak Yadi, tampak 3 kantung berisi masing-masing gula batu berwarna kekuningan, lalu jahe dibawahnya (jahe harus dikeprek sebelum direbus), dan dedaunan kering (kiri); Warung Wedang Uwuh Pak Yadi yang bersahaja (kanan)
Baca juga :
Wisata air terjun Jurang Pulosari, Krebet, klik di sini ...

Curug Jurang Pulosari, Krebet Jogja

Berkunjung kembali ke Desa Wisata Batik Kayu Krebet (Sendangsari, Pajangan, Jogjakarta) pada akhir Desember 2015, - ulasan kami tentang Desa Wisata Krebet bisa dibaca di sini... - kami tak melewatkan kesempatan untuk melongok wisata air terjun Jurang Pulosari yang belakangan hits di media sosial. Foto-foto tempat ini yang di-upload netizens sungguh indah dan menggoda. Apakah curug ini memang sebenarnya seindah fotonya di website? Check it out...
Dari patung Semar icon Desa Krebet, kita terus menuju ke arah selatan hingga keluar dari gapura selatan desa. Di sebelah kanan jalan terdapat papan penunjuk arah, kita belok kanan meninggalkan jalan utama. 
Foto di bawah memperlihatkan papan penunjuk arah ke curug dan gapura selatan Krebet, dilihat dari sisi selatan gapura.
Jika jalan utama sudah diaspal mulus, jalan masuk ke curug ini masih berupa jalan batu yang bagian tengahnya sudah disemen agar nyaman dilalui sepeda motor. Jalan ini tidak lebar, jika 2 mobil berpapasan maka salah satu harus menepi, harus bergantian lewat. Memang jalan ini belum nyaman dilalui mobil... semoga ke depannya hal ini terus diperbaiki.
Sekitar 500m lebih melajukan mobil pelan-pelan, kita tiba di parkir kendaraan yang ternyata telah disediakan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa setempat (Dusun Krebet, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY). Area parkir mobil terletak di sebelah kiri jalan, Pokdarwis curug ini tampaknya menjadikan sebuah rumah-warung di sebelah kanan jalan sebagai base pengelolaan air terjun. 
Seorang mas-mas keluar dari warung, lalu membantu suami memarkir mobil, kemudian mengutip karcis masuk sebesar Rp. 5000 per mobil. Murah memang, berapa orang pun penumpang mobil, harga karcisnya sama saja.
Mas-mas yang super ramah ini menjelaskan singkat tentang arah dan bagaimana menuju lokasi curug, serta sekilas sejarah curug yang ternyata belum terlalu lama dikelola ini. Terakhir ia menyuarakan keprihatinan masyarakat setempat atas rencana dibangunnya perumahan tepat di lokasi parkir mobil. Memang kami perhatikan di ujung area parkir sebuah alat berat tengah bekerja meratakan tanah. Ada benarnya sih keprihatinan ini, karena jika benar manjdai perumahan, maka perumahan ini berdiri tepat di atas lokasi air terjun. Sedikit banyak tentunya limbah perumahan akan berdampak tidak baik bagi kelangsungan dan keasrian lokasi curug yang setelah kami perhatikan memang masih 'ijo royo'royo'. Mas-mas itu menyodorkan sebuah buku berisikan tanda-tangan dan komentar para pengunjung tentang dampak berdirinya perumahan di atas lokasi air terjun. Suami tampaknya cukup jeli membaca situasi dan menuliskan komentar 'tidak setuju' atas rencana pembangunan perumahan tersebut. 
Dari lokasi parkir kendaraan ini kita harus sedikit berolahraga karena lokasi curug ini - sesuai namanya Jurang Pulosari - memang terletak agak jauh di bawah area parkir, alias berada di dasar 'jurang'. Jaraknya sekitar 400-an meter lah, tetapi jalannya menurun cukup curam di beberapa trek. Lintasan ini sepertinya memang lebih cocok untuk pengunjung yang masih tergolong belia.
Lokasi bakal perumahan yang tampaknya kurang disetujui warga, tampak alat berat di kejauhan (kiri); kita harus memutari lokasi bakal perumahan ini dulu sebelum tiba di trek menurun (kanan)

Mulai trek menurun (kiri); Pokdarwis telah membuat tangga batu ke bawah dan pegangan dari kayu dan bambu (pilihlah pegangan yang masih kokoh untuk berpegangan karena di beberapa tempat kami rasakan pegangan ini agak goyah), juga gazebo yang cukup nyaman untuk beristirahat sejenak (kanan)

 Sesekali kami harus berhenti sejenak untuk mengatur langkah saat tiba di trek menurun yang curam, di sini jarak vertikal antar anak tangga ada yang hingga sekitar 50cm (kiri); tampak bendungan pada sungai kecil yang menjadi sumber air terjun, tetapi debit air yang sedikit - meski saat itu sebenarnya sudah masuk musim penghujan - membuat permukaan sungai amat dangkal, hal ini berimbas pada debit air terjun yang juga jauh berkurang dari semestinya (kanan)

 
Air sungai dari sebelah kiri memenuhi beberapa trap kolam di sebelah kanannya, lalu jatuh membentuk air terjun Pulosari di bawahnya (kiri); penampilan curug Pulosari yang masih tampak indah dengan balutan vegetasi hijau di sekitarnya meski debit air terjunnya hanya sedikit. Tampak beberapa anak mandi-mandi di telaga kecil berair kehijauan ini. Jika Anda perhatikan tumpukan batu di sebelah kiri bawah foto, pada kondisi debit air normal seharusnya tumpukan batu ini hanya terlihat permukaan atasnya saja. Dari sini bisa disimpulkan bahwa muka air telaga ini telah menyusut sekitar 50cm. Hmmm, curug ini memang lebih tepat dikunjungi pada saat persediaan air cukup melimpah... (kanan)

Telaga kecil di bawah air terjun setinggi sekitar 5m ini tampaknya memang sengaja dibendung pula, sama seperti aliran air di atasnya. Pada foto di samping kanan tampak bendung batu pembentuk telaga, dan aliran air limpasannya ke arah kanan. Pada kondisi normal, batu-batu bulat besar berlumut itu akan terendam air. Namun karena saat itu muka air sungai sedang jauh menyusut, daerah di sebelah kanan bendung batu itu mengering. Kita bisa berjalan-jalan dengan bebas di sini.
Terdapat sebuah warung tradisional penyedia pop mie dan minuman di sebelah telaga. Tak banyak pengunjung yang berada di curug ketika itu. Mungkin karena hari itu adalah hari Jum'at. Pada akhir pekan tentunya akan lebih banyak pengunjung yang datang.
Setelah puas melihat-lihat dan menikmati pemandangan yang sekali lagi tetap mempesona meski bukan pada kondisi maksimal curug, kami bergerak kembali ke atas. Trek menanjak ini ternyata sedikit lebih tricky untuk ditaklukkan dibandingkan saat kami turun. Berhati-hati dan menanjak perlahan saja di sini. Tetap aman kok jika kita tidak terburu-buru.
 Karena trek menanjak ini memang sedikit lebih melelahkan ketimbang saat turun, kami sempat mengaso sejenak di Gazebo Nakula. Pemandangan dari sini cukup OK untuk berfoto ria. Dinamakan Gazebo Nakula karena ternyata gazebo ini berdiri pada urutan ke-4, terhitung dari dibangunnya gazebo pertama di lokasi wisata alam ini (berarti sebelumnya telah ada gazebo Puntadewa, Werkudara, dan Arjuna). Gazebo kayu yang kokoh dengan ukuran 2,5*2m ini ternyata dibangun secara swadaya oleh warga Dusun Krebet RT 02 pada bulan Mei 2015, lho. Wah, kiprah Pokdarwis Krebet ini memang layak ditiru...